Google
 
Showing posts with label Erasmus. Show all posts
Showing posts with label Erasmus. Show all posts

Para Pelopor Seni Lukis Bali

0

19-23 September 2008 | 09:00-16:00


Pameran koleksi Rudolf Bonnet 

Erasmus Huis
Jl. HR. Rasuna Said Kav. S-3 Kuningan Jakarta
T-524 1069

Yayasan Rudolf Bonnet menggelar sebagian dari koleksi Rudolf Bonnet yang mengandung unsur Belanda di Erasmus Huis. Unsur Indonesia dan Belanda ini sebelumnya telah dipamerkan di Museum Puri Lukisan di Ubud, Bali. Lebih dari 60 lukisan Bali dari periode 1929-1958 dengan kwalitas prima.

Dapatkan gambaran lebih lengkap dari namanama besar seperti I Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung Gede Sobrat dan I Patera
Katalog pameran ini ditulis oleh Dr. Helena Spanjaard, merupakan dukungan penting dalam proses peralihan dari pandangan etnografis ke sejarah seni terhadap seni Bali sejak tahun 1920.
more

Pameran Miffy

1

04 April - 22 Mei 2008 | 09:00 - 16:00

Dick Bruna (Utrecht, 1927) memperoleh ketenaran yang dunia sejak ia menciptakan Nijntje (dari kata konijn = kelinci).
Nijntje adala sosok kelinci yang dengan pengalaman sehari-harinya menyentuh kehidupan para balita dan anak-anak selama beberapa generasi. Bruna tidak saja menuangkan ide-idenya hanya dalam bentuk gambar tetapi juga teks-teks yang bersajak.

Erasmus Huis,
Jl. HR. Rasuna Said Kav. S-3
Kuningan Jakarta

+6221-524 1069

more

Wondering at Indonesia 1600 - 1950

0

30 Oktober - 24 November 2007
9:00-16:00

Pameran koleksi Varia Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mencakup sejumlah besar gambar, etsa, lito, foto.

E rasmus Huis,
Jl. H.R. Rasuna Said Kav. S-3, Kuningan - T 524 1069

Koleksi Varia Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mencakup sejumlah besar gambar, etsa, lito, foto dan banyak karya lainnya yang menggambarkan Indonesia jauh sebelum dan sesudah Kemerdekaan pada tahun 1945.
Karya-karya dalam koleksi ini tidak saja dibuat dan dikumpulkan oleh bangsa Belanda, tetapi juga oleh berbagai bangsa lainnya yang sejak abad ke-17 singgah di Nusantara. Mereka menggambarkan segala sesuatu yang mereka anggap luar biasa dan mengagumkan.

Koleksi ini terdiri dari sekitar 3000 karya, yang sebagian besar berasal dari dan bercerita tentang Indonesia dan juga dari berbagai tempat lainnya di seluruh dunia, ditemukan kembali dan dikuakkan oleh sebuah tim gabungan Indonesia-Belanda dengan bantuan finansial dari Belanda.

Sejumlah karya dari koleksi ini, yang sebagian besar belum pernah diperlihatkan kepada masyarakat umum, serta berbagai benda bernilai sejarah dan budaya. Pameran ini diproduksikan bersama Perpustakaan Nastional Republik Indonesia dan Rijksmuseum Amsterdam.
more

Masa Lalu – Masa Lupa | 10 - 7

0

10 Agustus–7 September 2007
Enam seniman Indonesia menginterpretasikan sejarah Indonesia, 1930 - 1960

Erasmus Huis
Jl. HR Rasuna Said Kav. S-3
T 524 1069

Perjuangan untuk menegakkan sejarah, meminjam metafora senada dari Milan Kundera, adalah perjuangan untuk melawan lupa.

Pasca lengsernya kekuasaan Orde Baru 1998, wacana tentang “pelurusan” sejarah menjadi sesuatu yang dirasakan penting bagi masyarakat luas. Selama lebih dari 32 tahun, teks-teks sejarah telah digunakan oleh rezim penguasa untuk mengukuhkan kekuasaannya: memberi jalan untuk menunjuk siapa yang benar dan siapa yang salah, siapa yang berjasa siapa yang tidak, dan terutama, menunjuk siapa kawan siapa lawan.

Belakangan, berbagai usaha dilakukan oleh kelompok-kelompok sipil untuk mengurai kembali fakta sejarah yang telah sekian lama simpang siur dan mengungkap fakta yang selama ini terpendam kepada masyarakat awam. Di kalangan masyarakat seni, pendekatan yang kritis terhadap sejarah telah menjadi wacana yang populer, baik sebagai basis penciptaan karya maupun sebagai gagasan. Para seniman mempertanyakan kembali kepercayaan kita terhadap apa yang selama ini ditunjuk sejarah sebagai kebenaran. Pendekatannya seringkali subversif dan cara presentasinya yang menekankan pada daya tarik visual.

Cemeti Art House menginisiasi sebuah proyek panjang (pada periode Mei – Oktober 2006) yang bertujuan untuk membaca kembali fakta sejarah, dengan tajuk proyek “Masa Lalu Masa Lupa”. Kami menerapkan beragam gagasan kurasi yang berusaha mempertemukan seniman dari generasi yang berbeda-beda. Hasil-hasil penelitian dalam proyek “Indonesia across Orders: The Reorganization of Indonesian Society, 1930-1960” ini menjadi peluang untuk mengintegrasikan kembali kerja kreatif dengan dunia akademik.

Ada enam seniman yang terlibat pameran ini. Mereka adalah empat seniman dari Yogyakarta yaitu Agus Suwage, Eko Nugroho, Wimo Ambala Bayang dan Yuli Prayitno, satu seniman dari Bandung yaitu Prilla Tania, dan satu seniman Jakarta yaitu Irwan Ahmett. Setiap seniman memilih satu judul di antara tiga belas judul dari Jurusan Sejarah Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Pameran ini merepresentasikan cara pandang yang beragam tentang pergulatan untuk “Menjadi Indonesia” pada periode 1930 – 1960. Kisah-kisah personal berbaur dengan fakta-fakta formal untuk menunjukkan bagaimana situasi kolonial menjadi bagian besar dalam usaha membentuk identitas Indonesia tersebut. Melalui bentuk-bentuk visual yang dihasilkan para seniman, kita belajar lagi untuk mengingat dan merefleksikan masa lalu, dan bersama-sama, melawan lupa.
more

Gross National Happiness | 13-6

0

13 July - 6 August 2007 | 09:00-16:00
Erasmus Huis
Free entrance | Gratis

Photography exhibition by Mirjam Bürer

Regional plants, as opposite to modern uniform patented plants, have been researched and photographed by Mirjam Bürer during her many trips to Asia. The worldwide urbanization and the economic market principles suppress the world’s original ecological resources - resources we often sacrifice without giving it much thought. Mirjam Bürer uses this theme to build an installation in the garden of the Erasmus Huis, and by doing so draws attention to the importance of a genetic variation of plants for the preservation of biodiversity and the value of putting quality above quantity. In the Erasmus Huis the public will be able to see big screens constructed out of layers of painted, photographed and serigraphed landscapes with plants and seeds.

Selama sekian banyak perjalanannya di Asia, Mirjam Bürer melakukan penelitian dan membuat foto tanaman budidaya daerah, yang berlawanan dengan tanaman modern yang seragam dan dipatenkan. Urbanisasi yang mendunia dan prinsip-prinsip pasar ekonomi merusak sumber ekologis, sumber yang sering kita korbankan tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Tema ini dipakai oleh Mirjam Bürer untuk membuat sebuah instalasi di kebun Erasmus Huis dan dengan melakukan itu, ia mencoba menarik perhatian orang akan pentingnya variasi genetik tanaman untuk kelanjutan keanekaragaman hayati serta pentingnya menempatkan kwalitas di atas kwantitas. Di Erasmus Huis akan tampak layar besar yang terdiri dari lapisan lukisan, foto dan cetakan pemandangan dengan tanaman dan benih
[photo: www.mirjamburer.com]
more

A Human Touch | 8 Juni – 5 Juli

0

8 Juni – 5 Juli 2007
09:00 - 14:00, Sabtu 09.30 - 12.30
Pameran Droog Design 'A Human Touch'
Erasmus Huis
Jl. HR Rasuna Said Kav. S-3
T 524 1069

Droog Design dari Belanda lebih merupakan sebuah mentalitas. Setiap produk merupakan olahan sebuah konsep sekaligus juga meletakan tandatanya pada pencapaian dan tujuannya. Pendekatan ini menghasilkan bunga rampai produkproduk yang mempunyai tujuan fungsional, juga menjadi perdebatan tentang konsep.
Produkproduk Droog Design sangat istimewa dan dapat diakses kapan saja. Sebagian tampak tidak asing, terkadang membangkitkan kenangan. Sebagian tampak kurang sempurna, lainnya justru tampak sempurna dalam kesederhanaannya. Ada yang mengandung unsur humor, ada juga unsur puisi.
Semua produk mengungkapkan cerita yang dapat dimengerti di seluruh dunia. Itulah produk-produk yang memiliki ‘A human touch’.

Pada 1993 ahli sejarah disain Renny Ramakers dan disainer produk Gijs Bakker mendirikan Droog Disain. Mereka telah mengkurasi 180 karya dari lebih 100 disainer dunia. Dengan selalu memandang segala sesuatu secara kritis dan lucu, Droog Disain (droog artinya garing seperti dalam ‘humor garing’) mampu bersaing dengan gaya disain mewah yang mendominir pasar.

A human touch adalah pameran pertama Droog Disain di Indonesia yang menjadi tonggak dalam pertukaran budaya kedua negara.

Pameran didukung Netherlands Culture Fund, Kementerian Luar Negeri Belanda dan Kementerian Pendidikan, Budaya dan Ilmu Pengetahuan Belanda.

more